Artikel kali ini mengenai pokok yang unik yang pasti buat anda rasa teruja apabila pertama kali melihatnya. Bagi saya ini merupakan lokasi yang kedua saya melihat pokok Cannonball ini. Kali pertama saya melihatnya semasa melawat ke Taman Pertanian Sabah Tenom 2 tahun yang lalu. Jika anda ingin tahu, pokok yang anda lihat ini juga terdapat di Taman Botani Pulau Pinang. Tetapi sayang, tidak dapat melihat buah Cannonball di sini. Yang ada hanyalah kuntuman bunga cantik yang sedang mekar dan memberi aroma yang menyegarkan apabila dihidu.
Yang menarik tentang pokok ini, bunga dan buahnya hanya keluar pada batangnya sahaja dan tangkai bunga/buahnya boleh cecah hingga ke tanah. Mengikut rujukan, buahnya yang masak memerlukan masa 9 bulan dari mula bunganya menghasilkan buah. Apabila masak ia akan gugur jatuh ke tanah dan pecah disebabkan buahnya yang berat. Buahnya yang pecah akan memberikan bau yang kurang enak atau orang putih kata ” smells unpleasant “.
Cantik tak bunganya?
Nak tengok tak buahnya? Gambar yang anda lihat di bawah ini telah saya rakamkan semasa melawat ke Taman Pertanian Sabah. Memang banyak pokok terdapat di sana.
Saya tidak pasti buah ini bermusim atau sebaliknya. Namun, semasa berkesempatan melawat ke sana, memang banyak sekali pokok yang sedang mengeluarkan buah. Buahnya sebesar buah kelapa. Beratnya juga lebih kurang buah kelapa.
Menurut rujukan, buahnya pernah dilihat di makan oleh haiwan tetapi bagi manusia ia dikatakan boleh menyebabkan keracunan. Namun, dari segi perubatan daun, bunga dan buahnya dikatakan boleh dijadikan bahan ubat sekiranya menggunakannya dalam dos/sukatan yang betul.
Jadi, bolehkah anda membayangkan berapa besar buah dan bunga pokok ini?
Pernahkah anda melihat pokok ini dijumpai di mana-mana? Di harap boleh kongsikan di sini.
Sumber : http://fazlisyam.com/2011/01/12/pokok-peluru-meriam-cannonball-tree/
Jumat, 14 Januari 2011
Pokok Peluru Meriam @ Cannonball Tree
Minggu, 09 Januari 2011
Permentasi Jerami Untuk Pakan Ternak Sapi
DATE_FORMAT_LC2
| Pemanfaatan utama areal persawahan adalah untuk menghasilkan komoditi pangan terutama tanaman padi. Daya dukung tanaman padi sebagai sumber bahan baku pakan ternak cukup besar. Beberapa limbah yang dikeluarkan dari usaha tanaman padi diantaranya jerami yang besarnya mencapai 100% dari produksi gabah, bekatul 1,5%, dedak kasar 4% dan dedak halus 2,5% dan sekam 24%. Limbah yang dihasilkan dari tanaman padi dapat digunakan secara keseluruhan. Jerami dapat digunakan sebagai pupuk atau pakan ternak, sekam untuk litter, dedak dan bekatul untuk pakan ternak dan merang sebagai media pertumbuhan jamur. | ||
| Jerami melalui teknologi pengolahan yang tepat dapat menjadi sumber pakan yang berlimpah bagi ternak. Potensi fisik jerami yang sangat besar belum sepenuhnya dimanfaatkan. Pemanfaatan jerami sebagian besar dibakar (37%) untuk pupuk, dijadikan alas kandang (36%) yang kemudian dijadikan kompos dan hanya sekitar 15% sampai 22% yang digunakan sebagai pakan ternak. Kendala utama penggunaan jerami sebagai bahan pakan ternak adalah kecernaan (45-50%) dan protein (3-5%) yang rendah. Nilai manfaat jerami padi sebagai bahan pakan ternak dapat ditingkatkan dengan dua cara, yaitu dengan mengoptimumkan lingkungan saluran pencernaan atau dengan meningkatkan nilai nutrisi jerami. Optimasi lingkungan saluran pencernaan terutama rumen, dapat dilakukan dengan pemberian bahan pakan suplemen yang mampu memicu pertumbuhan mikroba rumen pencerna serat seperti bahan pakan sumber protein. Cara fermentasi jerami yang dilakukan oleh BPTP Jawa Barat adalah melalui proses anaerob (tanpa membutuhkan udara) dengan memanfaatkan campuran beberapa bakteri seperti: Mikroba proteolitik, lignolitik, selulolitik dan lipolitik. Bahan dan alat yang digunakan cukup sederhana yaitu: 2 buah drum plastik bervolume 60-80 liter, pompa/motor sirkulasi 1 unit, selang/paralon secukupnya. Sedangkan bahan yang digunakan, yaitu:
| ||
| Selama proses pembuatan perlu ada langkah pengaktifan yaitu dengan pengadukan larutan selama 3 hari sampai menjadi rata. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jerami fermentasi adalah (1) tumpukan jerami tidak kena hujan, bahan tidak terlalu basah; (2) pisahkan sesuai varietas dan kondisi jerami (segar, layu atau kering); (3) fermentasi jerami segar dapat dilakukan dengan cara menyemprotkan larutan starter : air : jerami = 1:100 pada setiap lapisan dengan perbandingan 1:10:100 untuk jerami yang sudah layu, perbandingan 1:20:100 untuk jerami kering dan apabila jerami dalam keadaan basah cukup dilakukan dengan menggunakan perbandingan 1:5:100. Susunlah jerami mentah ditempat yang sudah disediakan dengan tebal setiap hamparan 20-30 cm. Lebar dan panjang hamparan sesuai dengan kebutuhan. Tinggi atau tebal lapisan dapat mencapai 2,5 meter dari dasar tumpukan. Kemudian simpan ditempat yang teduh dan tidak kena hujan. Lama fermentasi lebih kurang 21 hari. Proses fermentasi jerami dapat berjalan dengan baik ditandai pada tumpukan jerami tidak terbentuk panas atau keluar asap. Keadaan bahan yang terlalu basah atau terkena air hujan maka akan terjadi pembusukan jerami akhirnya timbulah panas yang menyebabkan hasil yang diperoleh tidak menjadi baik. Jerami fermentasi yang baik ciri-cirinya: Bentuk jerami masih nampak segar tetapi texturnya sudah lunak dan warnanya ke-kuning-kuningan. Penyimpanan jerami fermentasi: dapat dilakukan dengan cara tertutup dan terbukan. Cara terbukan yaitu sebelum disimpan Jerami fermentasi harus dikering anginkan terlebih dahulu agar selama penyimpanan tidak tumbuh jamur yang dapat merusak kualitas jerami yang sudah dihasilkan. Lama penyimpanan hampir sama yaitu: dapat mencapai 2 tahun atau dapat disesuaikan dengan kondisi fisiknya. Sedangkan cara terbuka dilakukan dengan cara: (a) Buat satu tonggak bambu setinggi lebih kurang 6 meter, sebagai tonggak penguat tumpukan jerami; (b) Buat alas yang terbuat dari tepas bambu yang diberi jarak sedikit dari permukaan tanah; dan (c). Susun Jerami di atas alas secara melingkari tiang tonggak sampai terbentuk suatu lapisan melingkar. Kemudian menyusun lapisan berikutnya dengan arah yang berlawanan. Tebal lapisan masing-masing lebih kurang 30 cm, demikian selanjutnya sehingga diperoleh ketinggian lebih kurang 6 meter. Lama penyimpanan yang ideal 1 tahun. Pemberian pakan jerami diberikan dalam bentuk aslinya tanpa mengadakan pascapanen sekunder seperti pengepresan dan lain-lain. Waktu pemberian cukup 2 kali sehari dengan dosis sesuai dengan umur sapi. Untuk umur sapi 1-2 tahun diberikan jerami 5 kg/ekor, umur sapi 3 tahun diberikan 8 kg/ekor, dan umur sapi 4 atau lebih diberikan 9 kg/ekor. Untuk melengkapi kandungan gizi pakan sapi penggemukan perlu dilakukan pemberian makanan tambahan berupa tongkol/biji jagung fermentasi sebanyak 1 kg, dan 4 kg bekatul. Pada waktu musim kemarau atau tidak cukup persediaan pakan, dapat diberikan hijauan sebanyak 25% saja sedangkan lainnya dengan memberikan jerami fermentasi. Pemberian pakan ini cukup mendukung pertumbuhan sapi dengan baik. | ||
Varietas Padi Rendah Emisi Gas Metan
Gas metan? Apalagi nih? Demikian tanggapan sebagian masyarakat dengan munculnya salah satu varietas padi yang diluncurkan Badan Litbang Pertanian belum lama ini. Sebenarnya tidaklah sulit untuk mengerti logika diluncurkannya varietas padi jenis ini. Kalau anda coba lebih cermat sedikit mengamati para petani padi yang sedang memanen tanaman padinya di sawah, anda pasti mendapatkan keluh kesah mereka tentang panasnya terik matahari di tempat tersebut.
Dari hasil penelitian panasnya lingkungan tersebut ternyata diakibatkan konsentrasi gas metan yang menyelimuti areal persawahan. Gas metan yang rumus kimianya CH4 tersebut merupakan sebagian dari bahan buangan sisa metabolisme tanaman padi. Perlu diketahui gas metan adalah gas rumah kaca yang sifatnya menahan panas radiasi bumi sehingga menyebabkan lingkungan menjadi lebih panas di areal tersebut. Panas yang ditimbulkan di areal persawahan menjadikan lingkungan tidak nyaman.
Pada saat ini telah dihasilkan beberapa varietas padi yang emisi gas metan-nya rendah. Tujuannya adalah agar konsentrasi gas metan di atmosfer dapat dikurangi serta lingkungan hidup khususnya di planet bumi ini dapat menjadi lebih nyaman. Tentunya kebijakan meluncurkan varietas jenis ini tidak hanya mengharapkan agar produksi per hektarnya yang setinggi langit. Tetapi lebih karena para petani juga mempunyai komitmen menjaga lingkungan agar berkembang menjadi lebih nyaman.
Melimpahnya produksi beras di Indonesia, diperkirakan mencapai 59,9 juta ton pada 2008 ini, sedikit telah memicu para peneliti padi untuk mengalihkan konsentrasi pekerjaannya untuk merakit padi dengan keistimewaan lain. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan padi dengan spesifikasi emisi gas metannya rendah. Varietas padi jenis ini sedang dijajaki kemungkinan penyebarluasannya.
Satu hal yang mendorong para peneliti untuk merakit padi rendah emisi gas metan adalah sulitnya menghindar dari dampak pemanasan iklim global. Tentu saja hal ini dimaksudkan agar lahan-lahan para petani tetap dapat berproduksi dan dilain pihak dapat menurunkan kecenderungan pemanasan iklim global. Varietas unggul padi yang mempunyai sifat tersebut adalah Ciherang, Way Apoburu, Cisantana, dan Tukad Balian.